Down Hill di Drak Bike Park

Sebulan lebih hujan tidak turun, membuat Batam makin gerah, walaupun jam masih menunjukkan pukul 05.30 pagi saat mulai gowes dari rumah menuju titik kumpul acara gowes hari ini di Pasar Mega Legenda, tapi badan mulai berkeringat deras, padahal baru menempuh jarak 7 km.
Gus Tom dan Oom Nova sudah di lokasi saat saya dan Oom Budi tiba di lokasi, rombongan Sekupang masih belum kelihatan. Sambil nunggu sempat-sempatin beresin rem depan Sepeda Om Budi dulu, yang rada kurang pakem. 06.15 4 mobil berisi Sepeda rombongan Sekupang berdatangan. Kejutan, diantara rombongan ada Pembina BCC, Pak Bambang Gunar yang hari ini ternyata berkenan ikut menjajal jalur offroad di Duriangkang. Mbah Bagi terlihat masih membawa sepeda lamanya, padahal menurut info, kemaren Mbah baru aja beli frame sepeda baru. “Belum sempat di rakit, n masih nyari shock depan dulu neh” katanya saat ditanya mengenai sepeda barunya. yah, mudah-mudahan minggu depan udah jadi ya Mbah.
Diantara rombongan juga nampak Om BF a.k.a Beny Funbike yang pagi ini mau pamerin perlengkapan pelindung yang baru dibeli kemaren. “kan mau offroad, ni jaga-jaga biar gak lecet kalo jatuh” teriak Om BF sambil mamerin Elbow and Knee protector nya. Pokoke kalo soal gaya Om BF paling numero uno lah!
Boss Ponco langsung ngeluarin kamera SLR nya buat moto dengkul Om BF yang dibungkus knee protector, sambil sekalian melayangkan tendangan ringan ke arah tulang keringnya. “Barang baru kudu di test dulu kekuatannya, jangan-jangan imitasi!” yang ternyata tindakan ini mendapat sambutan yang lain yang selanjutnya beramai-ramai mencoba menendang kaki Om BF (Untung gak dilihat bunda nya, kalo nggak besok-besok ijin gowes Om BF akan dengan serta merta dicabut n tu sepeda beralih fungsi jadi ganjel pintu di rumah).
Sementara Mbah Sjafar, Om Mahyudin, Om Hendra dan Om Ario masih membereskan sepedanya, Om Az nongol sambil gowes, n dari arah utara juga muncul wajah baru sambil menggowes sepedanya…. wah Om Irfan akhirnya ikutan juga! welcome to the club, bro. “Sorry baru bisa ikut yang sekarang, soalnya baru latihan 2 minggu terakhir, keliling-keliling komplek aja, kalo langsung ikutan takut dianugrahi victim of the week!” He he he, tau aja Om Irfan ini soal tradisi di acara gowes BCC. Kalem Om, yang penting have fun!
Menjelang berangkat Om Ivan nongol dengan United merahnya, tapi kostumnya kok kaya’ orang baru bangun tidur, n cuman pake sendal jepit. “Gue gak ikut, rem nya masih belom sempat di betulin, ni dateng cuma mau nyemangatin kalian aja sebelum start!
Downhill at Drak Hill
Jam 06.30, dah matahari bersinar makin galak saat akhirnya rombonga bergerak menuju Piggy Gate, pintu masuk Drak Bike Park, yang berjarak kurang dari 1 km dari Pasar Mega Legenda tempat kami berkumpul. satu persatu penggowes memasuki trek offroad sempit di hutan Duriangkang. Drak Bike Park ini adalah salah satu jalur offroad sepeda di Batam yang sekitar setengah tahun teakhir setiap weekend ramai dikunjungi para penggemar olah raga sepeda offroad di Batam, bahkan penggemar sepeda dari Singapore dan Malaysia juga cukup banyak yang rutin datang untuk mencoba jalur ini. Ada beberapa jalur sepeda dengan beberapa karakter, dan di beberapa titik lokasi disediakan gundukan/platform untuk yang ingin sedikit bermain-main, dan dibeberapa titik tikungan juga ada berm yang bisa dimanfaatkan untuk menghajar tikungan menurun dengan kecepatan tinggi.
Untuk rute hari ini kami memutuskan untuk mencoba Drak Hill, yaitu rute tanjakan berkelok-kelok menuju puncak bukit tertinggi di Duriangkang dan ditutup dengan jalur downhill berliku cukup memacu adrenalin, dan setelah itu dari tempat istirahat di Warung Edi kami akan mencoba drak jalur panjang. 2 etape plus 2 new bikers di antara rombongan, kaya’nya bakal seru neh.
selepas rute pembuka yang datar dan berliku, kami tiba di sebuah pertigaan dengan sebuah sign board mungil bertuliskan “Drak Hill”. Tidak perlu berlama-lama untuk segera mengambil keputusan berbelok ke kiri sesuai arah yang ditunjukan papan. Pak Bambang yang purnawirawan Polisi dan pernah menjalani pendidikan di Akpol, mengambil posisi di depan, di dampingi Mbah Bagi. Walaupun sudah sepuh tetapi power dan staminanya tidak kalah dengan yang muda, dan kami mulai disuguhi trek menanjak dan berliku menuju puncak bukit. sekali-dua terpaksa turun dari sepeda dan ber TTB-ria karena trek terlalu curam untuk didaki dengan menggowes, terutama di daerah tikungan tajam. namun hal ini tidak menyurutka semangat, terlebih rindangnya dedaunan di tengah hutan, menjadi semacam kanopi yang mencegah sengatan cahaya matahari membakar penggowes.
Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk akhirnya kami sampai di puncak bukit, dan di atas ternyata sudah ada beberapa penggowes dari komunitas lain yang sudah tiba lebih dahulu. Dari kejauhan wajah mereka cukup familiar, dan ternyata benar, mereka dari Komunitas Sepeda BNI/Cendana. kesempatan bertemu dimanfaatkan untuk bersilaturahmi sebentar. Setelah beristirahat dan nafas kembali pulih, semua penggowes bersiap-siap untuk menjajal trek downhill. Rombongan BNI pun turut bergabung, turun bersama… wah jadi rame banget neh!
Satu per satu para penggowes mulai take off dari puncak, mencoba mengadu nyali dan keterampilan menaklukkan jalur downhil yang berliku tajam. Dari atas terdengar derit kencang suara brake pad mencengkeram cakram berusaha mengurangi laju sepeda, atau malah beberapa berusaha agar kecepatan sepeda supaya tetap lambat. Wajar karena kami semua menggunakan sepeda cross country, bukan sepeda yang khusus dirancang untuk downhill, sebagian besar menggunakan sepeda hardtail. Bahkan ada 4 sepeda yang sama sekali tidak menggunakan suspensi alias rigid. Tapi itu semua tidak menghalangi kami untuk terus emlibaas trek sesuai dengan kemampuahn masing-masing.
Sama seperti waktu menanjak tadi, jalur downhill ini dibuat berliku, agar tidak terlalu curam, dan disetiap ujung tikungan dibuatkan berm dari papan, untuk memudahkan sat berbelok dengan kecepaqtan tinggi. Dibeberapa titik sepanjang jalur terdapat setidaknya 6 paltform/undakan yang bisa dimanfaatkan untuk “menerbangkan” sepeda sejenak. Jalur yang sangat menyenangkan untuk dicoba lagi suatu saat nanti. Trek Drak Hill berakhir di tikungan jalur utama, tidak jauh dari pertigaan tempat masuk ke drak Hill tadi, dan selanjutnya adalah jalur offroad datar berliku, menuju ke check point, bike rest di Warung Edi.




Di Bike rest, ternyata sudah ada beberapa penggowes yang sedang beristirahat. seperti disebutkan di depan, Drak Bike Park saat ini adalah salah satu tujuan utama dari penggemar sepeda offroad di Batam untuk mengisi akhir pekan. Jadi wajar, bila kita akan bertemu dengan beberapa komunitas sepeda Batam disini. dan suasananya juga cukup cair, sehingga walaupun mungkin baru sekali bertemu dengan sesama penggowes disini, tetapi seolah-olah kita sudah kenal cukup lama dan akrab.
Masalah di Rute Jalur Panjang
Puas beristirahat sambil minum teh hangat yang bisa dipesan di Warung Edi, kami melanjutkan perjalanan menempuh etape 2, yaitu Drak Jalur Panjang, dengan rute memasuki hutan Duriangkang, mengitari pinggiran Dam Duriangkang dan berakhir di Piggy Gate. dan disini masalah mulai bermunculan, diawali rombongan mulai terbagi 2, di depan Pak Bambang, Mbah Bagi, Mbah Sjafar, Gus Tom dan Oom Mahyudin. sementara yang lain terpaksa berhenti karena ban sepeda Om BF kempes dan bocor, yang sialnya dia tidak membawa ban dalam cadangan, dan ban dalam cadangan yang saya bawa, jenis pentilnya berbeda, karena rim punya Om BF untuk ban dalam dengan pentil besar (american) sedang cadagan yang saya punya, jenis pentilnya adalah pentil kecil (france). Tapi sepertinya tidak ada pilihan lain, selain dipaksakan untuk dipasang, dengan resiko ban dalam akan sobek, karena kejepit lubang pentil di rim yang lebih besar.
Setelah ban dalam terpasang dan dipompa kembali, rombongan 2 berusaha mengejar rombongan di depan yang sudah cukup jauh, tapi ternyata cobaan masih beum berakhir. Boss Ponco mendadak sakit perut. Katanya sih gara-gara minum minuman isotonik. oalah Boss, lha wong biasanya minum teh hangat kok malah nekat minum isotonik sih. Terpaksa kecepatan gowes diturunkan, dan beberapa kali berhenti untuk “mengakomodir” keinginan Boss Ponco “memenuhi panggilan alam” untuk menjinakkan rasa nyeri di perut. Tepi tetap saja tidak membawa hasil, karena sang isi perut tetap tidak mau keluar.
Sementara rombongan didepan sudah sampai di piggy gate, dan kami masih ditengah hutan. akhirnya rombongan 2 pun terpaksa di pecah, Om BF, Om Nova, Om Ario, Om Budi, Om Irfan dan Om Toni meneruskan sisa rute jalur Panjang, saya dan Om Hendra balik arah memotong jalur menemani Boss Ponco menuju jalur keluar drak Bike Park.

Keluar dari hutan disambut dengan sinar matahari yang sangat terik, padahal jam masih menunjukkan pukul 10 pagi. Sepeda diarahkan menuju “eating point” di rumah Susan, yang sudah menyiapkan soto ayam. Gus Tom, Mbah Bagi, Om Budi dan Om Nova memilih langsung pulang karena masih ada keperluan. Sementara yang lain berkumpul sambil makan disempatkan rapat sedikit untuk membahas final draft AD/ART dan Skedul kegiatan BCC tahun 2010. (djoe)
| < Prev | Next > |
|---|















