Visitors Counter
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday419
mod_vvisit_counterYesterday1238
mod_vvisit_counterThis week8288
mod_vvisit_counterNo9550
mod_vvisit_counterThis month26332
mod_vvisit_counterNo40591
mod_vvisit_counterAll days567366

Online (20 minutes ago): 31
No 38.107.179.228
,
Today: May 20, 2012
Member Online
None

Bifza CC Gowes To Sekupang 2 (The Sequel)

Sisa rute minggu lalu yang belum sempat dijelajahi menyisakan rasa penasaran untuk dicoba. Sabut ini (30 Januari 2010) diputuskan untuk menggowes kembali ke Sekupang.

Halaman rumah Pak Sjafar sudah dipenuhi beberapa penggowes saat kami tiba disana. Kejutan, ada 2 penggowes baru ikut bergabung. Pak Salim dan Pak Haji Siddik. “Welcome to the club, Sir!”

Jam tangan menunjukkan waktu pukul 07.00 saat kami mulai start, dan lalu lintas di jalan raya sekupang sudah mulai ramai dipenuhi orang-orang yang mulai beraktifitas Sabtu itu. Perlu sedikit waspada, karena para penggowes mesti berbagi jalur dengan berbagai macam kendaraan bermotor. (Entah kapan para pengendara sepeda diberi jalur khusus oleh pemerintah).

 

Rute diawali menuju ke arah pelabuhan beton Sekupang. Karena ada 2 peserta baru yang usianya cukup senior, membuat penggowes lain sadar untuk membatasi diri tidak menggowes terlalu cepat, disamping cuaca di Batam yang sebulan terakhir minim turun hujan, membuat udara lumayan panas.

Jalur sepedanya belum adaPak H. Siddik di kawal Oom Hendra

Sampai di ujung pelabuhan beton sekupang, kami belok ke kanan, dan disuguhi rute menanjak yang cukup curam ke aras RS Otorita Batam. Pak Haji Siddik sempat mengalami kendala di tanjakan ini, karena baru pertama ikut, menyebabkan beliau kesulitan untuk melakukan pemindahan gigi. beberapa kali terpaksa berhenti untuk menyetel kombinasi gear.

 

“Pemanasan” di jalur offroad

Selepas RS OB, kami berbelok ke kiri dan masih terus menanjak. Pak Siddik akhirnya sampai juga. “Sorry, belum biasa mindah giginya, maklum baru ikut” kilahnya saat bergabung dengan rekan-rekan lain yang menunggu di sebuah pertigaan.

Menanjak dan panjang Pertigaan ini dilewati sampai 3 kali :D

“Okey kita naik ke jalur kiri, nyoba offroad dulu” kata Oom Hendra yang merancang rute. Sempat menemui senuah jalan yang terputus karena erosi, beberapa penggowes memilih untuk menuntun sepeda saat melewati pinggiran jalur longsor ini karena merasa gamang. Jalur masih terus menanjak, sampai akhirnya kami menemui sebuah jalur tikus berupa drop off curamsedalam lebih kurang 10 m, terbagi dua dimana ditengah-tengahnya terdapat platform sempit yang sedikit landai. Oom Hendra langsung “loncat” ke bawah, yang diikuti Pak Salim, yang ternyata cukup punya nyali dan lihai melewati drop off itu. Tertantang aksi Pak Salim, saya juga ikut meluncur dengan sepeda, walaupun sempat nyaris menghantam sebuah pohon  .

waduh, curam banget yah?? tuntun aja ah!

Sementara yang lain memilih TTB, wah… kalah sama yang udah tua n baru pertama kali ikut(selidik punya selidik ternyata daerah di situ emang “tempat main” Pak Salim waktu masih muda. “Gue masih trauma gara-gara jatuh di downhill nongsa dua minggu yang lalu” alasan Mahyudin waktu memutuskan nuntun sepedanya ke bawah. yang akhirnya di amini oleh peserta lain dan memutuskan untuk TTB. Selebihnya adalah trek yang cenderung menurun dan berliku. Tidak terlalu lama, trek offroad habis, dan kembali bertemu jalur aspal yang ternyata berujung di pertigaan tempat istirahat tadi.

“Lha kan tadi itu pemanasan dulu! biar pada seger” celetuk Oom Hendra sambil nyegir, saat yang lain protes karena harus kembali ke titik semula, he he he.  Dan trak berikutnya adalah jalur aspal menanjak (lagi) yang lumayan panjang.

 

Nanjak, nanjak dan menanjak lagi

Mbah Bagi yang konon pahanya terbuat dari batu, langsung menghajar tanjakan panjang itu dengan langsung melejit ke depan. Dan memang rute kali ini, BCCers bolak-balik disuguhi Gear jalur aspal menanjak. Sesuai tipikal kontur di daerah Sekupang, tanjakan disini sebagian besar adalah tanjakan curam. Sebagian penggowes mengantisipasinya dengan memakai kombinasi gear “tembok” alias gear paling ringan, dimana chainring yang paling kecil, sedang sprocket paling besar.

Oom Ivan yang sebagian besar “karir” bersepedanya bermain di XC alias jalur offroad, lebih banyak memilih ber-TTB ria setiap bertemu tanjakan. (Gak pa pa Oom, kami tunggu diatas kok  )

Tanjakan ini berakhir mentok diujung aspal, dan bertemu hutan. Sambil menunggu yang lain Mbah bagi masuk ke hutan untuk mengecek rute offroad nya apakah masih bisa dilalui atau tidak. Sementara penggowes yang lain satu persatu sampai dengan wajah kepayahan dan nafas ngos-ngosan, dan langsung mengkaparkan diri di aspal untul mengumpulkan “nyawa” kembali yang seolah-olah tercecer ditanjakan tadi.

Tidak lama Mbah Bagi dan Oom Hendra nongol dari balik hutan, “Jalurnya putus, gak mungkin dilewatin, jadi kita harus turun lagi ke bawah, lewat kolam” terang Mbah Bagi.

“What!! turun lagi Pak???” jerit Oom Ivan, penggowes terakhir yang sampai di atas, yang baru saja menggeletakkan sepedanya di aspal, san akhirnya ikut tergeletak bersama sepedanya.

Sampai lepas helm, buat ngurangin beban Terkapar diantara sepeda

Setelah semua penggowes merasa segar kembali dan foto bersama sejenak, selanjutnya kami meluncur lagi ke bawah ke pertigaan tadi, dan berbelok ke kiri, selanjutnya kembali turun ke jalur offroad ke arah kolam. Lagi-lagi di jalur offroad ini sebagian trek terdiri dari tanjakan yang memaksa penggowes untuk turun dari sepeda dan menuntun sepeda.

Jalur offroad ini tidak terlalu panjang, keluar dari hutan, kami kembali bertemu sebuah jalur aspal menanjak, ke arah Wisma Batam. dan kembali sebagian penggowes memasang gear “tembok” dan beberapa memilih TTB. Di pertigaan wisma Batam, selanjutnya jalur menurun sepanjang jalan Palapa menuju ke arah jalan raya sekupang.

Bertemu lagi dengan Jalan Raya Sekupang (btw nama jalannya jalan apa yah?? he he he) kami menggowes beriringan berbalik arah dari jalur start tadi, dan berbelok ke arah Gedung Beringin, menuju Tiban.

DSC00066

Di jalur ini setidaknya kami harus melahap (lagi) 3 buah jalur tanjakan curam, dan ditutup di Pom Bensin Tiban 3 untuk selanjutnya menuju Eating Point (Istilah dari Pak Ponco) ke rumah Mbah Bagi, untuk makan. Mbah bagi pagi ini sudah menyiapkan mie goreng dan nasi uduk plus pisang goreng di rumahnya, yang tentuya disambut dengan suka cita oleh para penggowes lainnya. (djoe)

DSC00074 DSC00077

New Biker on The Road :

Pak Salim Pak Haji Siddik