Visitors Counter
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday419
mod_vvisit_counterYesterday1238
mod_vvisit_counterThis week8288
mod_vvisit_counterNo9550
mod_vvisit_counterThis month26332
mod_vvisit_counterNo40591
mod_vvisit_counterAll days567366

Online (20 minutes ago): 30
No 38.107.179.229
,
Today: May 20, 2012
Member Online
None

Bifza CC Bike On The Beach

BCC, BATAM, 16-01-2010, Pak Tom, sudah stand by di halaman mesjid waktu saya tiba, sedang menurunkan sepeda dan memasang roda, dan tak lama Om Adi lewat dengan sepeda tuanya sambil membawa tas kamera besar diselempangkan di pundaknya. Gowes pagi ini merupakan pertama kalinya Om Adi ikutan kegiatan BCC, “Sekalian mau hunting foto” katanya. Welvome to the club, bro, mudah-mudahan bisa berkelanjutan.

Tidak lama rombongan BCC Chapter Sekupang muncul dengan 3 buah mobil, Mbah Sjafar, Mbah Bagi dan Mbah Slamet dengan sigap langsung menurunkan sepeda, dibantu Om Sukhoi – yang kali ini sudah meninggalkan standarnya dirumah  – Om Mahyudin, Mr. Ponco dan Om Nova.

Sepeda sudah pada siap saat Om Hendra, Om Budi n Om Az nongol dengan sepedanya masing-masing. Okey komplit peserta hari ini, yang lain seperti biasa, punya alasan sendiri-sendiri untuk tidak ikutan gowes pagi ini  :D (Beny, kapan mo ikutan offroad??? masa’ ikutnya kalo ada fun bike doang sih?)

Jam 7 tepat tapi matahari sudah cukup tinggi dan panasnya mulai menyengat saat kami start menuju bundaran SMA 3 ke mudian kearah penggalian pasir. Semua penggowes terlihat bersemangat memutar pedal sepedanya. Sengatan matahari Batam yang membakar kulit tidak dirasakan saat sudah berada diatas sepeda.

 

Memasuki trek offroad di lokasi penggalian pasir menjadi menu pembuka XC, trek sangat kering dan terdapat krikil lepas serta berpasir karena sudah dua minggu terakhir Batam belum diguyur hujan. Hal ini menyebabkan ban sering kehilangan traksi karena terpeleset saat menggilas tumpukan kerikil atau pasir.

Lepas dari jalur penggalian pasir, kami masuk ke trek menanjak di areal kebun. Sempat berhenti untuk foto-foto sejenak dengan Kamera SLRnya Om Adi (ditunggu sharing hasil fotonya Om). Selesai berfoto ria pedal kembali berputar, dan sempat mendapat “sambutan” meriah dari empat ekor anjing kampung, yang dengan semangatnya menggonggong rombongan penggowes. Kali ini bener-bener Anjing menggonggong, penggowes cuek dan berlalu dalam arti yang sesungguhnya. (Tapi Om Mahyudin sempat pucat juga neh he he he)

Lepas dari trek offroad kebun, kami bertemu jalur aspal jalan raya nongsa, dan langsung belok kiri. semua bersemangat, karena meneui jalur yang menurun dan panjang, sampai akhirnya kami belok kanan dan memasuki komplek Dam Nongsa. Menjelang Dam, ternyata gerbang masih terikat rantai dan di gembok. Terpaksa mengangkat sepeda untuk meloloskannya dari celah-celah pagar (jangan ditiru yaa!  ), beruntung tidak lama satpam penjaga datang membawa kunci untuk membukakan pagar, untung dia gak marah (gak tau neh kalo yang gowes bukan anggota BCC, pasti ngamuk-ngamuk dia hihihi).

Perjalanan dilanjutkan menelusuri pinggir Dam Nongsa. Ilalang tumbuh sangat tinggi dan nyaris menutup trek. Pantulan cahaya matahari di air danau dam nongsa serta rimbunnya dedaunan pohon, cukup menyejukkan dan mengurangi rasa panas sengatan matahari. Satu persatu secara berurutan kami menerobos ilalang. Sial, penggowes yang paling belakang, Mbah Bagi, sempat dapet “ciuman” mesra dari seekor tawon di bagian pahanya. Dan saya sempat terjatuh 2 kali gara-gara yang didepan berhenti mendadak, sementara cleat sepatu masih nyangkut di pedal, konyol banget dah!

Lepas dari hutan Dam Nongsa, kami bertemu jalam raya kembali, berupa tanjakan panjang ke arah Nongsa Point Marina, dan diujung tanjakan kami belok kanan memasuki jalur offroad menuju pantai Nongsa. Sama seperti trek offroad sebelumnya, trek disini juga sangat kering, bumpy, dan banyak kerikil lepas serta berpasir. Disebuah jalur menurun tajam gara-gara over confidence saya terjungkal, saat itu tengah meluncur kencang, dan di depan Mbah Slamet juga meluncur, tapi sedikit melambat, saat hendak memotong dari kiri, ternyata keterusan sampai pinggir trek, dan tidak ada pilihan lain selain diving n jungkir balik. Untung tidak mengalami cedera parah, hanya sedikit lecet di dengkul dan memar di pundak. Baru aja berdiri n duduk diatas sadel tapi belum sempat menggowes sepeda lagi, oom Mahyudin pun ikut terjungkal dan terguling-guling di trek. Sempat terkapar beberapa saat dan tidak bisa bangun. Dengkul berdarah, dan kedua siku juga lecet-lecet. Mungkin karena bobotnya yang cukup berat membuat sikunya nyeri tertimpa badan saat jatuh. Sesudah diberi pertolongan pertama, Oom Mahyudin bisa bangkit n mengowes lagi, walaupun berikutnya bila ketemu jalur turunan, Oom Mahyudin memilih menuntun sepedanya “trauma bro!” katanya.

Diujung menjelang pantai korban berikutnya adalah Mbah Sjafar, yang terperosok ke bekas jalur air dan menyebabkan betis kirinya lecet-lecet. Tapi hal ini tidak pernah mematikan semangat penggowes sepuh BCC ini, dengan sigap Mbah Sjafar kembali menggowes sepeda.

Setelah menelurusuri pantai, ternyata Oom Adi sudah tidak kuat lagi, Pahanya keram, tidak kuat lagi untuk menggowes sepeda. terpaksa mencharter ojek yang ada disitu, untuk menggangkut Om Adi dan sepedanya sampai ke jalan raya terdekat. “Gue lempar handuk bro, Sorry gak kuat lagi neh” serunya sambil nyengir menahan sakit diatas ojek sambil manggku sepedanya. Jangan kapok ya bro, next time kudu ikut lagi  (sampai diujung jalan beraspal Oom Adi segera nelpon istri tercintanya untuk minta dijemput, yah semoga saja kegiatan berikutnya sang istri tetep memberi ijin Oom Adi utk ikutan gowes)

Sementara yang lain melanjutkan menggowes, meninggalkan panta nongsa, masuk ke trek offroad penutup, di belakang Markas Polda Kepri, dan akhirnya sampai ke jalur aspal di areal industri Citra Lautan Teduh – Batu Besar.

Kegiatan gowes hari ini ditutup dengan (lagi-lagi) makan bubur ayam di Batu Besar. (Djoe)