Visitors Counter
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday425
mod_vvisit_counterYesterday1238
mod_vvisit_counterThis week8294
mod_vvisit_counterNo9550
mod_vvisit_counterThis month26338
mod_vvisit_counterNo40591
mod_vvisit_counterAll days567372

Online (20 minutes ago): 29
No 38.107.179.226
,
Today: May 20, 2012
Member Online
None

Bifza CC Gowes to Lembang Bandung

BIFZA CYCLING COMMUNITY – Tujuh belas sepeda didalam kotak dan tas sepeda sudah masuk dalam kompartemen bagasi pesawat Batavia Air untuk penerbangan hari Kamis tanggal 15 Juli 2010. Delay dua jam dari jam 18.00 menjadi jam 20.00 tidak membuat gundah hati para anggota BCC malam itu, karena masing masing sudah membayangkan bahwa weekend ini kami akan menempuh rute yang lain dari biasanya. Atas undangan rekan-rekan pesepeda dari Ristek, mereka mengajak anggota BCC untuk menikmati rute sepeda di daerah Lembang Bandung, Iming-iming pemandangan pegunungan Bandung serta dinginnya udara Lembang, benar-benar memupus rasa kesal karena penerbangan harus di delay sehingga 2 jam.

Kotak Sepeda Bifza CC di Bandara Hang Nadim


Menjelang tengah malam rombongan akhirnya tiba di penginapan Guest House BP Batam di daerah Kuningan Jakarta, dan tidak mau menunggu lama, masing-masing anggota BCC segera membongkar kotak dan tas sepeda, serta menyipakan berbagai peralatan untuk segera merakit kembali sepeda yang sejak kemarin sudah dibongkar dan dimasukkan kedalam kotak. Dengan penuh keceriaan dan canda, bahkan termasuk Dini dan Dian, dua peserta wanita dalam rombongan kali ini, dengan semangat merakit sepeda masing-masing dan dilanjutkan memompa ban yang karena [ersyaratan keselamatan penerbangan harus dikempeskan, serta menyetel Front/rear derralileur dan rem, untuk memastikan bahwa semua sepeda sudah siap untuk dipakai menghajar trek di Lembang Bandung hari Sabtu nanti.

Jumat petang, setelah beberapa anggota BCC menyelesaikan bebrapa urusan dinas di Jakarta (walaupun rencananya mau gowes, tp sebagai karyawan BP Batam yang berdedikasi, ternyata beberapa anggota BP Batam menyempatkan ngelaba untuk menjalankan beberapa urusan dinas di Jakrta J), sepeda yang sudah terakit dimasukkan ke dalam mobil box, dan para anggota BCC pun masuk ke dalam beberapa mobil yang sudah di sewa, untuk memulai perjalanan darat menuju Lembang – Bandung. Kondisi jalan macet yang nyaris tidak pernah dijumpai di Batam, dianggap sebagai bumbu penyedap perjalanan kali ini, karena semua sudah tidak sabar untuk mencicipi trek offroad di tanah pasundan.

Welcome Party

Setelah berjuang menembus kemacetan, dan sempat muter-muter di Bandung karena nyasar, sambil sekali-sekali melihat GPS sebagai penunjuk arah, sekitar pukul 22.00 rombongan tiba di Pondok Panineungan – Desa Cibodas Maribaya Lembang. Dinginnya udara pengunang di ketinggian 1.700 meter dari permukaan laut terasa cukup menusuk kulit para penggowes BCC yang sehari-hari tinggal di daerah pesisir.

Tapi rasa dingin itu segera sirna, begitu melihat Pak Arief dan tim dari Darul Hikam, berdiri ramah di depan kambing guling yang sudah matang dilatar belakangi spanduk ucapan “Wilujeng Sumping” yang menyambut ketibaan kami. Tidak butuh waktu lama, kesamaan akan hobby menggowes sepeda segera membuat suasana cair. Layaknya bertemu teman yang sudah kenal lama, rombongan BCC dan Darul Hikam pun segera terlibat dalam perbincangan hangat,m dan dengan antusias membahasa rute yang akan dilewati besok, sambil menyantap potongan daging kambing guling dan menyeruput minuman bajigur bandrek yang hangat.

Sarapan Downhill

Sabtu pagi beberapa alarm yang di set di handphone para goweser berteriak nyaring, yang serta merta langsung mebuat para penggowes yang meringkuk dibalik selimut untuk bangun, sholat subuh dan menyiapkan segala sesuatu untuk memulai kegiatan gowes pagi ini.

Saat bangun juga terlihat beberapa wajah baru, ternyata mereka adalah rombongan dari BPPT yang baru tiba di Lembang setelah lewat tengah malam. Dan sekali lagi sepeda berhasil mencairkan suasana, tidak butuh waktu lama untuk membuat semua peserta hari ini langsung akrab seolah-olah sudah kenal lama.

Setelah sarapan dan menyetel beberapa sepeda yang masih bermasalah, semua penggowes segera berkumpul dihalaman Pondok Panineungan. Saya segera memimpin para peserta untuk melakukan pemanasan bersama, selain untuk mengurangi rasa dingin, juga tentunya untuk memastikan agar otot-otot tubuh para penggowes bisa siap saat start nanti dan terhindar dari keram otot kaki yang mungkin menyerang.

Bifza CC Siap Jajal Lembang di Bawah Spanduk Selamat Datang

 

Jam 07.00 semua peserta bersiap dibelakang garis start.... and the journey begin! Kami langsung disuguhi jalan aspal bergelombang di Desa Cibodas. Senyum ramah para penduduk menyambut rombongan pesepeda yang lewat. Dua kilo meter dari tempat start, kami berbelok menuju jalan tanah, dan Om Yudha, yang membuat rute memberi tahu bahwa di depan akan ada jalur downhill. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, saya segera menggowes si Zero Kuning untuk mengisi barisan depan rombongan. Benar, tidak lama terlihat bentangan lembah serta setapak jalur turunan curam memanjang dari atas menuju dasar lembah, dengan sebuah kelokan tajam diujung bawah sana. Bentangan bukit yang sedikit tersaput kabut serta curamnya trek di depan membuat adrenalin meningkat, dan tidak perlu berpikir dua kali untuk segera menghajar jalur tersebut, dan membiarkan grafitasi untuk melakukan pekerjaanya :D

Bifza CC Downhill di Maribaya Bandung

 

Sepedapun segera meluncur kencang, menelusuri jalur turunan curam itu. Sesekali sepeda harus diajak loncat untuk melewati cekungan, tapi tak urung saya sempat terjatuh juga, akibat menghindari sebuah lubang di kiri, ternyata sepeda malah terarah ke sebuah lubang di sisi kanan jalan. Tapi setelah bergulingan diatas tanah, makin membuat penasaran untuk menghajar sisa turunan yang masih panjang, dan tidak terasa akhirnya saya sampai di dasar lembah, dan segera disuguhi sebuah jalur menanjak menuju bukit berikutnya. Setelah berhenti sejenak di ketinggian, sambil memperhatikan penggowes lain yang satu per satu melewati jalur turunan tadi, tidak lama seluruh rombongan sudah berkumpul diatas bukit.

Pak Arif dari Ristek Rem Abis di Jalur Downhill

 

Selanjutnya adalah tanjakan makadam/berbatu yang cukup curam dan licin. Tidak ada pilihan bagi kami selain melakukan TTB alias Tuntun Bike untuk melewati jalur itu, karena bila nekat digowes, selain terlalu curam, bebatuan membuat roda kehilangan traksi, dan beresiko terjatuh. Untung tanjakan ini tidak terlalu panjang, hanya sekitar dua ratus meter, dan kamipun kembali memasuki daerah perkampungan penduduk.

Bifza CC di Tengah Kebun Sayur Lembang

 

Perjalanan kembali diteruskan, dengan trek aspal berlubang disana-sini, menuju Taman Hutan Rakyat (THR) Juanda. Diujung desa kembali kami dihadapkan dengan jalur aspal menurun curam dan berliku, khas daerah pegunungan. Untung pagi itu jalan masih sepi, sehingga beberapa dari kami masih bisa memacu kecepatan meluncur turun disini, hingga berujung di Jalan raya Lembang, di depan pintu masuk THR Juanda.

Trek THR Juanda

Setelah membayar sekitar Rp 17.00 perorang, rute selanjutnya adalah menikmati jalur paving blok di dalam THR Juanda. Jalur sempit yang biasa digunakan hiking oleh para pengunjung THR ini lumayan menantang dengan kontur trek naik turun mengikuti kontur bukit THR Juanda. Sekali-kali kami harus mengurangi kecepatan hingga batas minimum dan nyaris berhenti karena bertemu rombongan pejalan kaki. Beberapa pemandangan yang sangat indah membuat kegiatan gowes di sini menjadi sedikit lama, karena jiwa narsis para penggowes mulai muncul. Tidak boleh melihat pemandangan latar yang bagus sedikit, semua langsung ramai-ramai berhenti untuk berfoto ria, tapi kapan lagi? Mumpung lagi di Lembang.

Bifza CC di Trek Paving Blok THR Juanda Bandung

 

Rombongan juga menyempatkan untuk mengunjungi sebuah gua yang disebut dengan Gua Belanda, karena konon dulu di jaman penjajahan di gua tersebut digunakan oleh para tentara Belanda untuk menahan dan menyiksa para pejuang Republik ini yang tertangkap karena melakukan perlawanan kepada para penjajah.

Bifza CC di Depan Gua Belanda THR Juanda Bandung


Tanjakan Panjaaaaaaang

Setelah puas berputar-putar dan foto-foto di dalam kawasan THR Juanda, kami pun keluar dari situ dan beristirahat di sebuah rumah milik Darul Hikam, karena setelah ini, rute yang tersedia hanya tanjakan dan tanjakan panjang! Kesempatan untuk beristirahat ini tidak disia-siakan. Semua peserta segera menyantap snack yang telah disediakan tuan rumah.

Bifza CC berpose di Asrama Darul Hikam Dago Pakar

 

Kami pun diberi tahu kalau rute selanjutnya adalah rute legendaris para pesepeda di Bandung, yaitu rute tanjakan dari Dago menuju Lembang yang berupa tanjakan berliku dan akan berakhir disebuah warung yang menjual Bandrek yang dikenal dengan sebutan Warban atau Warung Bandrek.

Akhirnya, waktunya menikmati siksaan jalur menanjak!! Kamipun mulai mengayuh pedal sepeda menapaki jalur aspal yang menanjak dan beliku. Tipisnya oksigen dibandingkan dengan didaerah pesisir, menjadi siksaan tersendiri yang kami rasakan. Dari atas terlihat beberapa penggowes lokal yang meluncur turun, sementara tanjakan yang dihadapi juga semakin curam. Chainring depan sudah bergeser ke posisi yang paling kecil, sementara sproket belakan juga satu persatu bergeser keposisi yang paling besar, bahkan beberapa penggowes sudah mentok mengguanakan gear teringan atau yang biasa disebut dengan gear tembok.

Bifza CC TTB di Tanjakan ke Warung Bandrek

 

Sepeda cuman bisa merayap pelan, setiap gowesan terasa semakin menyiksa, beberapa penggowes memutuskan untuk TTB karena sudah gak kuat untuk mempertahankan agar sepeda tetap bergerak ke depan. Setiap bertemu tikungan selalu dihadapkan dengan jalur yang masih terus menanjak. Bebar-benar sebuah ujian kekuatan dengkul dan paru-paru! Hingga akhirnya kamipun bertemu jallur yang sedikit melandai dan terlihat sebuah tempat parkir sepeda dipinggir jalan dan sebuah warung sederhana dengan tulisan “Warung Bandrek” dengan tag line “Aku Bisa, yang lain belum tentu” dan “Beda karena punya cerita”.... ah, inilah rupanya Warban yang terkenal dikalangan penggowes itu! Dan kamipun dengan bangga menancapkan bendera BCC disitu untuk menunjukkan bahwa kami pernah menggowes sampai di Warban!

Hidangan berupa bandrek dan beberapa panganan khas kampung disuguhkan di Warban ini. Disitu kami juga bertemu dengan beberapa penggowes lain yang tengah beristirahat di Warban. Tidak butuh waktu lama untuk segera akrab dan saling memperkenalkan diri serta bertukar cerita tentang pengalaman bersepeda.

Bifza CC di Warung Bandrek, Favorit Point of Interest Gowesser Bandung

 

Puas beristirahat, minum bandrek dan foto-foto di Warban, perjalananpun diteruskan memasuki etape terakhir kegiatan gowes hari ini. Kami diajak memotong jalan, memasuki sebuah jalan tanah setapak  yang berbatu dan licin, yang sialnya memaksa kami untuk menuntun sepeda alias TTB, karena kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk dinaiki dengan sepeda. Dan ternyata jalur tersebut menembus kembali ke THR Juanda, tepatnya di dekat sebuah  air terjun. Tidak lama kamipun keluar dari THR Juanda dan lagi lagi dihadapkan dengan sebuah jalur aspal menanjak menuju Desa Cibodas. Tidak ada pilihan lain selain harus menggowes sepeda. Kembali posisi gear tembok terpasang disepeda. Dengan kecepatan boleh dibilang sama dengan orang berjalan kaki, serta rasa lelah setelah dari pagi menggowes, pelan tapi pasti kamipun mulai merayap naik menelusuri jalur menanjak dan berliku itu, hingga akhirnya terlihat plang besar bertulis Pondok Panineungan! Aahhh, petualangan kamipun berakhir disini! Wajah-wajah kelelahan namun puas terpancar dari setiap peserta gowes hari ini. Sebuah pengalaman bersepeda yang sangat berkesan!

Bifza CC di Jembatan THR Juanda - Maribaya

 

Gowes Karnaval Kongres Sepeda Indonesia

Tapi agenda gowes BCC di Pulau Jawa ini masih belum berakhir, minggu pagi dengan menggunakan Jersey BCC kami berkumpul dengan puluhan ribu pesepeda di pelataran parkir timur Senayan. Dari info yang kami dapatkan tidak kurang dari 50ribu pesepeda tumpah ruah disitu!

Rute bersepeda Senayan – Bundaran HI – Monas – Kota Tua, pp harus ditempuh oleh seluruh peserta. Pagi itu pesepeda benar-benar menjadi raja jalanan di Ibu Kota. Sepanjang mata memandang hanya terlihat para pesepeda dengan berbagai jenis sepeda dan kostumnya. Untuk sesaat pagi itu udara di kota Jakarta terasa bersih dan ramah bagi para pesepeda. Mimpi Agar suatu hari kelak cita-cita untuk punya jalur khusus sepeda kembali membuncah di setiap dada peserta karnaval. Bila Jakarta kelak punya jalur khusus sepeda, kiranya Batam juga aan segera menyusul. Sebab dengan kondisi jumlah penduduk Batam yang berjumlah 1,1 juta jiwa, dan dengan pertumbuhan jumlah kendaraan, mungkin Batam tidak butuh waktu lama untuk dihadapkan dengan problem kemacetan lalu lintas seperti yang dialami Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia lainnya. Nah sebelum hal tersebut terjadi, perlu segera dilakukan pembenahan lalu lintas di Batam, penyediaan angkutan umu massal yang nyaman dan teratur perlu segera diwujudkan, dan tentunya jalur khusus sepeda dan pedestrian yang nyaman untuk pejalan kaki bukan suatu hal yang mustahil untuk diwujudkan.

Let’s act beyond green, ditch your car, grab your bike and start pedaling!

Salam berjuta sepeda