Visitors Counter
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday557
mod_vvisit_counterYesterday1238
mod_vvisit_counterThis week8426
mod_vvisit_counterNo9550
mod_vvisit_counterThis month26470
mod_vvisit_counterNo40591
mod_vvisit_counterAll days567504

Online (20 minutes ago): 27
No 38.107.179.228
,
Today: May 20, 2012
Member Online
None

Tips Bersepeda Hemat

KOMPAS.com - Seperti layaknya ragam kegemaran dan hobi lain, ada kepuasan yang dicari dari aktivitas bersepeda atau kini lazim disebut gowes. Tentunya, ada harga yang harus dibayar untuk "membeli" kepuasan tadi. Memang benar pepatah, ada harga ada rupa. Namun, jangan lupakan bahwa tujuan utama bersepeda adalah demi kesehatan pribadi dan lingkungan.Tak jarang, penggila sepeda yang telah menekuni hobinya menghabiskan puluhan juta rupiah, baik untuk membeli maupun meng-upgrade onthel tunggangannya. "Awal tahun ini saya menghabiskan sekurangnya Rp 30 juta untuk membeli beberapa suku cadang mountain bikekebanggaan saya. Tapi, saya puas dengan hasilnya. Jadi, lebih happy saat mengayuhnya," kata Wahyu Setiaji (36), pegiat lembaga swadaya masyarakat internasional yang juga penggila sepeda gunung di Bandung, Jumat (4/12).

Niat awal Wahyu membeli sepeda hanya untuk bersantai seusai rutinitas kerja hariannya. Dia pun membeli satu jenis sepeda gunung merek Polygon seharga Rp 10 juta. Setengah tahun berjalan, rasa bosan mulai menghantui. Setelah menyisihkan sebagian gajinya, ayah dua anak itu mulai meningkatkan spesifikasi tunggangannya.

Beberapa suku cadang yang paling banyak diganti para biker pemula, yaknirear derailleur (RD), komponen yang memindahkan tingkat kecepatan pada gir belakang (cassette), dan front derailleur (FD), alat yang membuat rantai berpindah searah piringan bergerigi dekat tuas ayun (as chainwheel).

"Untuk dua suku cadang itu, harganya bisa sampai Rp 5 juta. Tergantung mereknya," ujar Wahyu.

Menurut Toni Herjanto, pemilik CV Kurnia Jaya, toko sepeda di kawasan Antapani, suku cadang lain yang biasa jadi incaran biker, terutama untuk golongan sepeda hybrid (paduan city bike dan mountain bike), adalah pemindah kecepatan (shifter) yang mampu mengatur kecepatan hingga 27 speed dan rangka sepeda. Untuk kedua komponen itu, produknya banyak didatangkan dari Taiwan, produsen sepeda terbesar di dunia.

Baru hingga bekas

Menurut Toni, ada dua alternatif yang bisa dipilih pembeli sepeda. Bagi yang tak mau repot, ada baiknya membeli jenis full-bike, yakni beli sepeda langsung pakai. Alternatif kedua, membeli sepeda rakitan. Memang lebih repot, tetapi kelebihannya, spesifikasi sesuai dengan keinginan dan pas dengan gaya pemilik. "Membuat sepeda lebih mahal. Ada yang lebih dari Rp 100 juta," ujarnya.

Namun, pasar sepeda rakitan masih sangat kecil. Dari 100 pembeli sepeda di tokonya per bulan, Toni mengaku, pembelian sepeda rakitan hanya sekitar 2-3 unit.

Pesatnya pertumbuhan jumlah pesepeda tidak hanya berdampak positif terhadap kenaikan penjualan sepeda gunung, tetapi juga penjualan sepeda bekas. "Semua penjual sepeda ibarat petani yang menikmati musim panen. Sepeda laku keras," ujar Asep Muslih, penjual sepeda di Jalan Malabar.

Asep menuturkan, dalam sebulan dia bisa menjual sepeda gunung sekitar 30 unit. Itu belum sepeda jenis lain yang bisa laku sampai 100 unit per bulan. "Untuk sepeda bekas, yang paling laku yang harganya di bawah Rp 1 juta," kata Yayan Sofyan (31), penjual sepeda bekas lain.

Untuk setiap sepeda yang dijual, keuntungan yang didapat berkisar Rp 50.000-Rp 150.000. Kadang keuntungannya bisa lebih dari itu jika penjual mendapatkan sepeda tersebut dengan harga murah dan bisa menjual dengan harga pasaran.

Sepeda-sepeda tersebut didapatkan dari warga yang butuh uang dan kemudian menjual sepedanya. Kadang Asep dan Yayan juga mendatangi bengkel-bengkel sepeda di Kota Bandung untuk mencari sepeda yang mungkin dijual.

Pasar Bandung

Bandung, sebagai salah satu kota yang dinamis, memang menjadi salah satu pasar potensial bagi pemasaran sepeda. Menurut Willsan, Sales Manager Polygon Area Jabar, beberapa tahun terakhir pertumbuhan pemasaran sepeda di Bandung dan sekitarnya cukup pesat. Hingga November 2009, penjualan sepeda Polygon berhasil mencapai 3.300 unit. Pencapaian itu meningkat signifikan dibandingkan dengan tahun 2008 sekitar 2.600 unit.

"Tahun ini kami mencoba penetrasi pasar ke instansi pemerintah dan perusahaan. Hasilnya positif. Banyak perusahaan berminat menggalakkan budaya bersepeda kepada karyawannya," ujarnya.

Pasar Bandung yang masih sangat prospektif membuat pihak Polygon berencana menambah gerai pemasaran pada 2010. Ini guna mendukung naiknya target penjualan 25 persen menjadi 5.000 unit tahun depan.

"Kami ingin menjadikan sepeda sebagai sebuah gaya hidup untuk mempertahankan kesinambungan pemasaran," kata Peter Mulyadi, Promotion Manager Polygon Indonesia.

Sebagai salah satu gaya hidup, aktivitas bersepeda memang menawarkan kepuasan tiada henti terutama bagi yang sudah menggilainya. Namun, penggemar sepeda diharapkan tetap bijaksana.Jangan sampai mereka hanya fokus pada aktivitas mempercantik fisik sepeda, tetapi melupakan aktivitas bersepedanya sendiri. Tetaplah gowes sesuai ayunan kantong Anda.